Interaksi dan Interaksi Internasional Brunei Darussalam

Interaksi dalam negeri

BRUNEI DARUSSALAM

==================

Brunei Darussalam, atau dikenal sebagai Brunei adalah sebuah negara kecil dengan luas area 5.765 km. Terdiri dari dua daratan kecil yang berhadapan dengan Laut Cina Selatan dan berada di Serawak, Malaysia distrik yaitu Tutong, Belait, Temburong; dan distrik Brunei atau Muara dimana terletak ibukota Bandar Seri Begawan yang dihuni 66.000 jiwa dan 59% adalah penduduk campuran.

Populasi penduduk Brunei adalah 301.000 yang terdiri dari 70,5% orang Melayu yang umumnya bekerja di pemerintahan dan sipil, orang Cina 16% dimana 80%-nya tidak terakomodasi sebagai warga negara resmi, dan beberapa kelompok lokal seperti orang Iban, Kedayan, Kayan, Kenyah, Kiput, Muru, dan Tutung. Pendatang yang berjumlah 8,2% umumnya sebagaipekerja industri yang berasal dari Inggris 6.000 orang, Asia Selatan4.200 orang, Gurkha 1.000 orang, Korea, dan Philipina.

Bahasa Melayu menjadi bahasa utama, disertai bahasa Inggris, Cina, Iban, dan belasan dialek daerah yang berjumlah 17 bahasa. Brunei dikenal sebagai salah satu negara terkaya di Asia karena hasil minyakbuminya.

Brunei menjadi negara Islam pada abad ke-15 setelah kekuasaan Sultan Awaang Alak Beter. “Rampat Piranci Forces” dikenal sebagai intervensi strategi dari Inggris untuk melindugi rute antara Inggris, India, Cina, Malaysia, dan Philipina. Brunei berada di bawah kekuasaan Inggris selama 100 tahun, pada tahun 1963 menolak bergabung dengan negara Malaysia, dan berdiri sendiri dari Inggris pada tahun 1983.

Kepemimpinan negara sepenuhnya dipimpin mutlak oleh Sultan H. Hassanal Bolkiah Mu’izzadin Waddualah yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia. Organisasi kementrian Hal Ehwa Agama (KHEA) memiliki pengaruh dan kontrol Islam yang sangat kuat berdampingan dengan sultan. Organisasi ini secara khusus menyediakan berbagai fasilitas untuk orang muslim.

Agama resmi adalah Islam dengan toleransi beragama, tapi prakteknya yang mayoritas menghadang yang minoritas. Hukum negara melarang aktivitas Duta Injil dan pemberitaan Injil bagi orang muslim. Tahun 1991 sebagian dari gembala dan suster dipaksa keluar dari Brunei. Pada tahun 1992 buku bacaan Kristen dan perayaan hari raya Kristen dilarang dan semua kontak hubungan dengan negara lain tidak diizinkan. Desember 2000 beberapa Pastor lokal dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan yang tidak jelas, yang lainnya tidak diizinkan melintasi perbatasan negara, percakapan teleponpun disadap. Buku-buku Kristen kembali disita, ibadah-ibadah Kristen diawasi dengan ketat oleh pihak keamanan negara.

Para Muslim yang mengalami perjumpaan dengan Yesus dan akhirnya percaya Tuhan Yesus harus membayar mahal, karena dikucilkan oleh keluarga besar mereka, seluruh harta disita oleh negara dan terpaksa harus menyelamatkan diri dan keluarga mereka ke negara lain.

Sesungguhnya hubungan antara bangsa pada era globalisasi sekarang memerlukan semua pihak saling memahami, saling menghormati terhadap satu dengan yang lain bahkan terhadap sesama sendiri. Karena itu perlu ada banyak dialog dan interaksi di kalangan semua yang berkepentingan.

Bagi kita warga brunei darussalam dan umat Islam, kita mempunyai pegangan agama yang menganjurkan kepada semua manusia yang diciptakan oleh Allah Subahanahu Wata’ala berasal dari Adam dan Hawa kemudian dijadikanNya bermacam – macam dan berbangsa-bangsa untuk berta’aruf, saling mengenal dan saling hormat-menghormati. Anjuran sedemikian adalah karena manusia itu sifatnya akan berbeda-beda bahasa, warna kulit, pengalaman budaya dan yang paling menonjol ialah perbedaan dalam kepercayaan beragama.

Allah Yang Maha Mengetahui tentang sifat manusia itu cenderung kepada bersengketa sesama mereka telah pula mengingatkan bahwa yang paling mulia di antara mereka ialah yang paling bertaqwa. Tentulah taqwa yang dimaksudkan oleh Allah dalam firmanNya pada ayat 13 Surah Al-Hujurat itu termasuklah memelihara diri daripada memusuhi dan dimusuhi, daripada menghina dan dihina – dalam semua perkara yang menyebabkan mereka berbeda-beda itu.

Maka at-ta’aruf, saling mengenal dan saling hormat yang dituntut oleh Allah itu antaranya boleh dilakukan dalam bentuk dialog sebelum dan setelah terjadi sengketa. Tegasnya hendaklah senantiasa ada kesediaan untuk menghindari permusuhan, mengheraikan persengketaan.

Semua itu asasnya ialah saling menghormati terhadap sistem politik dan sosial yang mana bagi kita ( warga Brunei darussalam ) dan umat Islam adalah meliputi pegangan agama dan kepercayaan. Dan itulah yang kita fahami tentang globalisasi dan diharapkan faedah daripadanya.

Suatu hal yang juga perlu disadari baik ialah kesediaan untuk menghindari permusuhan dan kesediaan menguraikan persengketaan itu tidak terhadap pihak-pihak atau kalangan-kalangan yang berlainan pegangan kepercayaan agama. Pengalaman umat manusia di dunia membuktikan persengketaan sesama sendiri di kalangan pemeluk agama yang sama adalah berpuncak daripada prasangka buruk dan permusuhan yang tidak diuraikan dengan semangat at-ta’aruf yaitu pendekatan.

Bahkan bagi umat Islam sengketa antara sesama yang berlatarbelakangkan fanatik mazhab terus menerus terjadi yang bukan saja melupakan tuntutan berta’aruf malah melupakan tuntutan Allah kepada orang-orang Islam dan beriman supaya berta’awun ‘alal birri wat-taqwa, tidak berta’awun ‘alal ithmi wal-‘udwan : ( Al-Maedah : 2 )

Kesemua itu menunjukkan tentang pentingnya dialog antara kalangan sesama dan bangsa-bangsa yang telah ditakdirkan berbeda-beda keadaan dan ihwal kehidupannya

Sesungguhnya dalam era globalisasi ini kita sedang bergerak ke arah situasi dunia yang berlainan dari sebelumnya. Kita perlu memberi reaksi yang tepat kepadanya.

Reaksi kita terhadap situasi yang sudah berubah memerlukan lebih peka terhadap kepentingan hidup bersama yang memberi ruang luas yang cukup bagi setiap bangsa dan setiap negara dalam tujuan untuk bersama akan tujuan pula untuk berbeda.

Artinya: situasi dunia sudah berubah daripada suatu keadaan di mana hubungan dan susunan antara bangsa dan negara tidak lagi berasaskan penaklukan dan penjajahan, tidak lagi berasaskan perang dingin ideologi politik.

‘Kita’ yang dimaksudkan di sini ialah kita manusia sedunia. Tidak terhadap umat Islam. Tidak terhadap bangsa-bangsa di belahan timur atau barat bumi ynag bulat ini. Kita usahakanlah menurut kesesuaian yang kita mampu untuk memupuk dan mengukuhkan kefahaman dan seglobal mungkin, menghindari daripada permusuhan, menguraikan persengketaan.

Sesungguhnya kita mendapati betapa tentangan atau kontroversi yang berakibat daripada karikatur Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam itu telah membuka mata sesetengah kalangan di Amerika dan Eropa betapa kita umat Islam sangat sensitif dan tidak bertolak ansur dalam mempertahankan prinsip agama. Suatu yang memang tepat.

Mungkin saja hal itu ada kaitannya dengan situasi dunia – khasnya dalam hubungan antarabangsa yang sudah berubah. Era perang dingin antara blok timur dan blok barat telah lama berakhir walaupun dikatakan ada pihak yang mengandaikan selepasnya ialah era clash of civilastion. Yang jelasnya ialah hubungan antara negara dan antarabangsa menurut pengaruh perang dingin ideologi telah berakhir. Dan karena itu mereka – seperti juga kita umat Islam – perlu memberi reaksi yang tepat, memberi respon yang wajar terhadap situasi dunia yang sudah berubah itu.

Kita tidak akan menyarankan untuk menilai semula prinsip-prinsip Islam. Tetapi kita wajar berfikir dan bertindak secara yang wajar, sehat dan memilih cara-cara dan pendekatan yang berfaedah dalam mempertahankannya.

Di kalangan orang Eropa ada yang sampai menyarankan supaya mereka memeriksa nilai-nilai mereka (to examine it’s own values).

Kita sekalipun tidak semestinya akan menyarankan yang sama yakni memeriksa nilai-nilai yang fundamental dengan mengorbankan prinsip agama namun tidak ada salahnya kita memeriksa cara pendekatan dalam memberi respon dan menguraikan sesuatu isu yang baru terutama sekali yang melibatkan hubungan antara warga negara, bangsa-bangsa dan dunia.

Memang antara kita dengan orang lain yang tidak sama kepercayaan dan pegangan ‘aqidah itu ada jurang pemisah. Dalam waktu yang sama telah pula ada jambatan-jambatan yang menghubungkan kita. Tentulah tidak bijak jambatan-jambatan itu dirobohkan pada ketika kita memerlukannya untuk memenuhi kehendak Allah Subhanahu Wata’ala supaya antara kita yang berbeda-beda itu berta’aruf dan berta’awun ‘alal birri wat-taqwa.

Itulah sebentuk negara brunei darussalam dalam berinteraksi kepada masyarakatnya, antar bangsa – bangsa maupun dunia yang berubah saat ini, dengan adanya interaksi tersebut Sultan Hasanal Bolkiah menjelaskan bahwa negara brunei darussalam adalah negara yang damai bahkan mengajak negara – negara sedunia untuk saling hormat – menghormati sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antaranya.

Kesimpulan

Brunei Darussalam

Meski sudah ada ketentuan dalam konstitusi yang memberikan kebebasan penuh dan tanpa hambatan dalam beragama, Pemerintah Brunei memberlakukan serangkaian undang-undang untuk membatasi penyebaran agama-agama selain agama Islam yang resmi. Pemeluk agama yang berbeda hidup bersama secara damai, tetapi interaksi oikumene dihambat oleh aturan agama Islam yang dominan, yang menghalangi umat Islam untuk mempelajari agama lain dan melarang pemeluk agama lain menyebarkan agamanya ke muslim. Pada saat yang sama, otoritas Islam menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk menjelaskan dan mendakwahkan Islam dan mereka juga menawarkan insentif keuangan, perumahan, dan masjid-masjid baru untuk orang-orang yang mau masuk ke agama Islam.

Interaksi Internasional Brunei Darussalam

Kerajaan Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, merangkap sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dengan dibantu oleh Dewan Penasihat Kesultanan dan beberapa Menteri. Brunei tidak memiliki dewan legislatif, namun pada bulan September 2000, Sultan bersidang untuk menentukan Parlemen yang tidak pernah diadakan lagi sejak tahun 1984.

Pertahanan Keamanan Brunei mengandalkan perjanjian pertahanan dengan Inggris di mana terdapat pasukan Gurkha yang terutama ditempatkan di Seria. Jumlah pertahanan keamanannya lebih kecil bila dibandingkan dengan kekayaannya dan negara negara tetangga.

Brunei memiliki dengan hubungan luar negeri terutama dengan negara negara ASEAN dan negara negara lain serta ikut serta sebagai anggota PBB. Kesultanan ini juga terlibat konflik Kepulauan Spratly yang melibatkan hampir semua negara ASEAN (kecuali Indonesia, Kamboja, Laos dan Myanmar), China dan Taiwan. Selain itu terlibat konflik perbatasan laut dengan Malaysia terutama masalah daerah yang menghasilkan minyak dan gas bumi.

Jumlah penduduk Brunei relatif lebih rendah dibandingkan negara – negara ASEAN lainnya (0,330 juta jwa) dengan penghasilan utama adalah minyak, LNG, dan jasa konstruksi, di samping pertanian. Pada 1999 Brunei mengalami inflasi sebesar 1%, dengan pendapatan perkapita dari hasil produksi masih cukup besar, yaitu $ US 17,400 yang berangsur meningkat pada 2000 menjadi $ US 20,000. Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil dan GDP yang tinggi maka Brunei merupakan negara yang kehidupan warga negaranya terjamin. Sebagian dari pendapatannya digunakan untuk program perumahan, pendidikan, pangan, serta memberikan subsidi pada warga negaranya yang belum mendapatkan pekerjaan.

Dalam kondisi krisis yang dialami oleh negara tetangga (ASEAN), Brunei tidak banyak berpengaruh secara signifikan. Dalam meningkatkan GDP, pemerintah Brunei bekerja sama dengan negara – negara ASEAN, Jepang, Korea, Uni Eropa, dan Taiwan (dalam bidang eksport oli dan LNG). Dalam bidang import, Brunei bekerja sama dengan ASEAN, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang (dalam kegiatan alat–alat transport, mesin, dan peralatan kimia).

Dalam Global Road Warrior-Country Facts, di bidang kesehatan disebutkan bahwa umur harapan hidup penduduk Brunei 73 tahun untuk pria dan 78 tahun untuk wanita. Angka kelahiran pada 2000 mengalami penurunan dari 23,3 (pada 1999) menjadi 20,8 (pada 2000) per 1000 penduduk. Sedang angka kematian mengalami kenaikan, yaitu 3,1 (1999) dan 3,2 (2000) per 1000 penduduk. Angka kematian bayi pada 2000 mencapai 10 per seribu kelahiran hidup.

Adapun interaksi internasional yang di lakukan oleh brunei

1. Asia – Europe Meeting ( ASEM )

2. Berintekrasi dan menjalin kerjasama dalam perekonomian secara regional terhadap RRC ( FTA ), ASEAN,

3. Negara – negara ASEAN termasuk Brunei sepakat untuk tanggulangi kabut asap di Palembang SumSel.

4. KTT BIMD – EAGA Sepakati ditambahnya jalur penerbangan antar negara dengan tujuan mempercepat laju pertumbuhan di sektor ekonomi dan lain – lain masih banyak lagi.

Saya mencoba untuk menjelaskan yang pertama yaitu Asia – europe Meeting ( ASEM )

Asia – Europe Meeting (ASEM) merupakan dialog kerjasama antara negara-neara di kawasan Asia dan Eropa yang diadakan secara reguler sejak tahun 1996. Negara-negara dari Kawasan Asia adalah Brunei Darussalam, Malayasia, Philipina, singapura, Thailand, Indonesia, Vietnam, Korea Selatan, Jepang, dan China, sedangkan dari kawasan Eropa mencakup seluruh negara anggota Uni Eropa (15 negara). Pertemuan ini terdiri dari pertemuan tingkat pejabat senior di bidang Perdagangan dan Investasi (SOMTI). Pertemuan Tingkat Menteri di bidang ekonomi, perdagangan dan industri yang diadakan setiap tahun serta Pertemuan Tingkat Kepala negara yang diadakan 2 tahun sekali.

Kerjasama di bidang ekonomi khususnya perdagangan dan investasi bertujuan untuk meningkatkan arus perdagangan dan investasi melalui penghapusan hambatan di bidang perdagangan dan arus investasi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua kawasan.

Pokok-Pokok Hasil Pertemuan

a. Perkembangan ekonomi global.

· Para Menteri menyimpulkan bahwa dampak negatif yang diakibatkan epidemik SARS bagi perkembangan ekonomi di kedua kawasan dalam jangka menengah dan panjang dapat dikurangi jika dilakukan tindakan dan kebijakan yang efektif di bidang kesehatan masyarakat, perdagangan, pariwisata serta arus barang dan manusia. Diharapkan pemulihan ekonomi akan berlangsung dalam semester ke-2 tahun 2003.

· Dengan kaitan dengan perkembangan Regional Trade Arrangemeent (RTA), Free Trade Arrangement (FTA) dan integrasi regional diantara mitra ASEM, para Menteri menekankan bahwa inisiatif secara bilateral atau regional tidak bertentangan dengan prinsip yang disepakati secara multilateral (Persetujuan WTO).

b. Perkembangan Persetujuan WTO kaitannya dalam menghadapi penyelenggaraan KTM- V, tanggal 10 – 14 September 2003 di Cancun, Meksiko :

· Para Menteri menegaskan kembali pentingnya untuk menghayati dimensi pembangunan dan usaha pemenuhan kebutuhan dari negara berkembang dan terbelakang, yang merupakan inti dari Doha Declaration Agenda (DDA). Dalam hubungan ini, para Menteri menyadari bahwa penanganan isu yang berkembang dalam DDA memerlukan kesepakatan dan usaha maksimal, serta menekankan perlunya untuk meningkatkan bantuan teknis dan peningkatan kapasitas (capacity building) guna membantu negara berkembang agar berpartisipasi lebih efektif dalam perundingan DDA dan guna melaksanakan persetujuan WTO.

· Para Menteri sepakat untuk bekerja erat untuk mensukseskan KTM-V di Cancun Meksiko atas seluruh elemen DDA sebelum tanggal 1 Januari 2005. Menjelang KTM-V di Cancun, negara anggota ASEM sepakat mendesak seluruh anggota WTO agar lebih fleksibel dan lebih memberi perhatian untuk menghadiri perundingan serta membahas berbagai isu secara positif sehingga dapat diambil keputusan konkrit pada KTM-V di Cancun Meksiko.

· Para Menteri menegaskan kembali dukungannya atas keanggotaan universal WTO dan sepakat agar negosiasi aksesi Viet Nam ke WTO dapat dipercepat.

c. Perkembangan pilar ekonomi serta aktivitas rencana aksi fasilitasi perdagangan (TFAP) dan rencana aksi promosi investasi (IPAP) :

. Para Menteri telah menyetujui berbagai rekomendasi serta temuan dan proposisi (saran/usul) yang disampaikan olehSOMTI 9, yaitu meliputi evaluasi atas mandat dan tujuan/sasaran Economic Ministers Meeting, Senior Officials on Trade and Invesment (SOMTI), DAN Asia-Europe Business Forum (AEBF), serta menindaklanjuti rekomendasi rencana aksi fasilitasi perdagangan (IPAP) dan WTO, dan peningkatan peranan/keterlibatan dunia usaha di kedua kawasan, serta peningkatan peranan ASEM Task Force on Closer Economic Relations.

d. Pertemuan yang akan datang :

. Disepakati bahwa Pertemuan Tingkat Menteri Ekonomi VI (EMM 6) akan diselenggarakan tanggal 16 – 17 September 2004 di Rotterdam, Belanda. Para Menteri juga sepakat untuk melaporkan hasil Pertemuan Tingkat Menteri Eknomi V (EMM 5) kepada pertemuan tingkat Kepala Pemerintahan/Negara V (Asia – Europe Meeting) yang akan berlangsung tahun 2004 di Hanoi, Viet Nam.

Kesimpulan

· Bagi Indonesia forum ASEM sangat penting dan bermanfaat, karena melalui dialog secara terbuka baik diantara negara-negara di kawasan Asia maupun dengan negara-negara di Kawasan Eropa (UE) yang merupakan negara maju, dapat dilakukan pertukaran pandanga/ide dalam kaitannya dengan peningkatan perdagangan dan investasi di kedua kawasan yang saling menguntungkan. Melalui forum ASEM, diharapkan tekanan kepada negara berkembang, antara lain hal-hal yang terkait dengan Persetujuan WTO untuk kepentingan negara maju, seperti Jepang dan Uni Eropa akan dapat diminimalisasi atas dasar kemitraan dan keterbukaan antara negara-negara di kedua kawasan.

· Mengingat besarnya kepentingan setiap negara di setiap kawasan dan perbedaan tingkat pembangunan ekonomi negara anggota ASEM, maka tuntutan untuk bekerjasama dalam mengatasi permasalahan di bidang perdagangan dan investasi di kedua kawasan, akan semakin penting melalui pengimplementasian TFAP dan IPAP secara terpadu dan komprehensif serta mendorong peranan Asia European Business Forum (AEBF).

Terima kasih…!!!

By Dazili Murtopo


About this entry